Jelang Ramadan, Ratusan KERATON Aro Wasolangka La Ode Hasani Lakukan Ziarah Kubur Akbar ke-3

Oyisultra.com, MUNA – Keluarga Rumpun Aro Tontomau (KERATON) Aro Wasolangka (Mantan Kepala Kampung Wasolangka) La Ode Hasani melakukan Ziarah Kubur Akbar ke-3, di makam La Ode Hasani, Wa Ode Umala binti La Ode Arabu di Rahia kampung lama Tongkuno, dan juga di makam La Ode Wuna (bergelar Omputo Aro Katinda) di komplek makam Kobhuru ne Dhampu Desa Kotano Wuna, pada Minggu, 8 Februari 2026 lalu.

Ziarah ini dihadiri oleh tidak kurang dari 300 orang peziarah yang adalah cucu cicit turunan La Ode Hasani dari 15 orang anak laki-laki dan anak perempuannya, dengan tema Merekatkan Kembali Cinta dan Silaturahmi. Ziarah ini menjadi ziarah terbesar yang dilakukan oleh Komunitas Rumpun di Muna, di Sultra bahkan bisa jadi di Indonesia umumnya.

Ketua Komunitas KERATON Aro Wasolangka, La Ode Muhammad Rabiali, menjelaskan bahwa hakikat Ziarah Kubur Akbar ini bukan saja untuk mengingatkan kita pada kematian melainkan juga untuk menjaga tradisi dan membangun identitas.

Dalam konteks tradisi, kata dia, ziarah kubur telah menjadi bagian dari kebiasaan orang Muna menjelang bulan suci Ramadan.

Menurutnya, tradisi itu memiliki nilai edukasi, spritual, hostory dan sosial budaya hingga harus dijaga dan dilestarikan.

Dalam hal identitas, Rabiali menuturkan bahwa Ziarah Kubur Akbar ke-3 yang dilakukan oleh KERATON Aro Wasolangka disamping sebagai upaya membangun silaturahmi diantara keluarga serumpun juga untuk mempublikasi dan mengenang kembali peran La Ode Hasani sebagai Kino Bharata Wasolangka yang membawahi 8 negeri wilayah pertahanan luar Kerajaan Muna di selat Tiworo, yaitu Marobo, Matombura, Matanapa, Labuandiri, Manggarai, Wabalomo, Wadolau dan Waburensi.

“Sebagian nama dari 8 kampung ini sudah tidak ada dan tidak dikenal lagi. Karena kampung Wasolangka sifatnya Otonom dan memiliki pasukan pertahanan, maka setiap Kino Bharata juga disebut sebagai Kapitalao Bharata,” ujar Ketua Komunitas KERATON Aro Wasolangka, La Ode Muhammad Rabiali kepada media ini, Rabu (11/2/2026).

Kandidat Doktor IPB University itu juga menjelaskan bahwa La Ode Hasani menjabat sebagai Kapitalao Bharata Wasolangka selama tidak kurang 40 tahun hingga kepemimpinannya dijatuhkan oleh Belanda ditahun 1910.

Dimasa itu, lanjut Rabiali, sistem pertahanan Bharata dibubarkan oleh Belanda, termasuk Bharata Lohia yang membawahi 9 kampung dan Lahontohe dengan 2 kampung.

Rabiali juga menuturkan bahwa La Ode Hasani adalah tokoh yang membangun Benteng Kalibu di Rahia Kampung Lama Tongkuno. Benteng itu dibangun dimasa huru hara Kerajaan Muna dimana penculikan, pembunuhan dan penjualan manusia marak dilakukan.

Benteng Kalibu oleh La Ode Hasani difungsikan untuk menampung dan melindungi orang-orang yang takut dimasa dimasa konflik besar itu, yang terjadi sejak masa Parinta Bone hingga masa pemerintahan Raja Muna La Ode Kaili.

Aro Tontomau La Ode Hasani menjamin pasti keselamatan setiap nyawa yang berlindung di Benteng Kalibu itu.

Saat ditanya apa makna Aro Tontomau yang menjadi gelar La Ode Hasani dan siapa kedua orang tuanya, Rabiali menjawab La Ode Hasani memiliki tatapan dan sorot mata yang tajam, lurus, dan penuh karomah hingga digelari lah dia Aro Tontomau.

“La Ode Hasani adalah satu-satunya anak dari pernikahan La Ode Wuna bergelar Omputo Aro Katinda dengan istrinya Wa Ode Umala binti La Ode Arabu,” pungkasnya.

banner 336x280