Isu Air Bendungan Keruh Akibat Aktivitas Tambang di Konsel, Kades Watumbohoti Paparkan Kondisi Terkini

Oyisultra.com, KONAWE SELATAN – Kepala Desa (Kades) Watumbohoti, Kecamatan Palangga Selatan (Palsel), Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Rahman S.Pd memberikan klarifikasi terkait informasi dugaan kekeruhan air bendungan dan kerusakan jaringan perpipaan air bersih yang dikaitkan dengan aktivitas pertambangan PT Generasi Agung Perkasa (GAP).

Rahman menjelaskan, bendungan yang menjadi sorotan berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT GAP. Namun, menurut dia, terdapat pula perusahaan lain yang beraktivitas di wilayah tersebut, yakni PT Jagat Rayatama.

Rahman mengatakan, kondisi air bendungan yang keruh biasanya terjadi saat musim hujan. Sementara itu, foto-foto air keruh yang beredar di media sosial merupakan dokumentasi sekitar dua tahun lalu, bukan kondisi terkini.

“Sesungguhnya di desa kami ada dua aktivitas perusahaan. Jika musim penghujan tiba, air bendungan biasanya keruh dan itu hal yang wajar. Namun, kalau hujan biasa, kondisi airnya normal,” ujar Rahman, Minggu (11/10/2026).

Terkait foto yang beredar, Rahman menegaskan kondisi tersebut tidak menggambarkan keadaan saat ini. Ia menyebut wilayah itu sedang mengalami musim kemarau panjang sehingga kondisi bendungan cenderung kering.

“Itu foto sekitar dua tahun lalu kalau saya tidak salah. Itu bukan kondisi saat ini. Kalau kondisi saat ini kering, karena musim kemarau panjang,” tegasnya.

Mengenai jaringan perpipaan air bersih yang melintasi area aktivitas pertambangan, Rahman mengakui adanya potensi kerusakan pipa akibat pekerjaan penggalian. Namun, Rahman menyebut perusahaan telah berkomitmen melakukan perbaikan, termasuk mengganti pipa apabila terjadi kebocoran.

“Perusahaan sampai saat ini tidak menutup mata dan selalu memperbaiki, bahkan mengganti pipa jika ada kebocoran,” jelasnya.

Rahman juga menerangkan, sebagian pipa yang belum ditanam kembali masih dibiarkan terbuka untuk memudahkan pengawasan dan mendeteksi apabila terjadi kerusakan. Menurut dia, pipa tersebut akan ditanam kembali setelah pekerjaan di area itu selesai.

Rahman memastikan, berdasarkan kondisi yang disampaikannya, jaringan perpipaan masih berfungsi dan air tetap mengalir ke masyarakat.

“Sampai saat ini jaringan air di perpipaan itu tetap mengalir ke masyarakat dengan lancar. Bahkan, tidak ada keluhan warga kami,” urainya.

Sebagai bentuk pengawasan, lanjut Rahman, perusahaan telah mempekerjakan seorang warga Desa Watumbohoti untuk memantau keamanan jaringan perpipaan selama 24 jam. Warga tersebut, kata dia, menerima gaji setara karyawan perusahaan.

Selain persoalan jaringan air, Rahman mengungkapkan adanya kesepakatan pemberian kompensasi kepada petani yang sawahnya terdampak aktivitas pertambangan. Kompensasi tersebut disepakati sebesar Rp1.000 per metrik ton.

Rahman menjelaskan, pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah produksi yang menjadi dasar perhitungan kompensasi, kemudian dibagikan kepada petani yang terdampak, terdapat sekitar 30 hingga 40 petani yang menerima pembagian tersebut.

“Petani sawah yang sawahnya terdampak sebesar Rp1.000 per metrik ton yang mereka bagi. Jadi, setiap seribu metrik ton kan langsung pembayaran, berarti Rp100 juta. Itulah yang dibagi kepada para petani sawah sekitar 30–40 orang,” jelas Rahman.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sipamase-mase, Sudirman mengatakan saat ini tidak ada air berlumpur yang masuk ke areal persawahan warga. Sudirman menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung.

Menurut Sudirman, kesepakatan kompensasi telah dibuat untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi saat musim hujan. Ia menyatakan petani tetap melakukan panen dan memperoleh kompensasi dari dua perusahaan yang beraktivitas di wilayah tersebut, yakni PT GAP dan PT Jagat Rayatama.

“Ini musim kemarau, tidak ada air, apalagi lumpur. Nanti musim hujan, itu pun kami tetap juga panen dan mendapatkan kompensasi dari dua perusahaan, yakni PT GAP dan Jagat Rayatama,” ungkap Sudirman.

Di akhir keterangannya, Rahman berharap polemik terkait kondisi bendungan dan jaringan perpipaan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah. Rahman mengingatkan agar persoalan itu tidak merugikan masyarakat, terutama warga yang menggantungkan mata pencaharian dengan bekerja di perusahaan.

Sebelumnya, anggota DPRD Konawe Selatan, Iksan menyoroti dugaan kekeruhan air bendungan dan gangguan jaringan pengairan masyarakat di Desa Watumbohoti, Kecamatan Palangga Selatan. Persoalan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan PT GAP.