Tari Lariangi, Pesona Adat dan Martabat Wanita Bangsawan Wakatobi

Oyisultra.com, KENDARI – Tari Lariangi adalah salah satu tarian tradisional paling bersejarah dari Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Tarian ini bukan sekadar bentuk hiburan atau pertunjukan seni semata, melainkan mengandung nilai-nilai luhur tentang kehormatan, keanggunan, dan kebangsawanan perempuan Wakatobi, khususnya di kalangan masyarakat Kesultanan Buton yang pernah berpengaruh besar di wilayah tersebut.

Tarian penjemputan khas Kaledupa ini tidak hanya memukau dengan keindahan koreografi dan kostumnya, tetapi juga sarat akan filosofi hidup dan sejarah yang terkandung dalam teks-teks nyanyiannya.

Hingga kini, Tari Lariangi tetap menjadi simbol identitas budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Wakatobi sebagai penjaga warisan leluhur yang kaya dan bermartabat.

Tari Lariangi. Foto/Ist

Asal-usul dan Sejarah Tari Lariangi

Tari Lariangi berasal dari tradisi istana Kesultanan Buton yang pada masa lalu meliputi wilayah Kepulauan Tukang Besi, yang kini dikenal sebagai Kabupaten Wakatobi.

Kata “Lariangi” dipercaya berasal dari kata “Lari” yang berarti “wanita” dan “angi” yang bermakna “keanggunan” atau “kemuliaan”. Maka, Lariangi dapat dimaknai sebagai wanita yang penuh keanggunan dan kehormatan.

Pada masa Kesultanan Buton, tarian ini hanya ditampilkan oleh para gadis bangsawan (putri dari keluarga kerajaan atau keturunan mulia). Fungsinya adalah untuk menyambut tamu kehormatan, upacara adat kerajaan, atau perayaan penting seperti penobatan sultan dan pernikahan bangsawan.

Dengan demikian, Tari Lariangi tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat dengan status sosial dan pesan moral tentang bagaimana perempuan ideal menurut budaya Wakatobi dan Buton

Tari Lariangi. Foto/Ist

Filosofi dan Makna Tari Lariangi

Filosofi utama dari Tari Lariangi adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Gerak-gerik lembut, tatapan mata yang terarah, serta posisi tubuh yang tegak menggambarkan sosok perempuan yang anggun, cerdas, dan berwibawa.
Dalam budaya Wakatobi, perempuan dipandang sebagai penjaga kehormatan keluarga dan lambang kesucian hati, dan nilai-nilai itu tercermin kuat dalam setiap langkah Tari Lariangi.

Selain itu, Tari Lariangi juga mengandung makna kesopanan, ketenangan, dan kebersamaan. Para penari biasanya menari dengan wajah teduh tanpa ekspresi berlebihan, menggambarkan kontrol diri dan keharmonisan batin, sesuatu yang sangat dijunjung dalam adat Buton dan Wakatobi.

Tarian ini mencerminkan ideologi masyarakat Wakatobi, yaitu gau satoto, yang berarti penyatuan kata dan perbuatan yang dijabarkan ke dalam lima prinsip nilai: tara (tangguh), turu (sabar), toro (teguh), taba (berani), dan toto (jujur).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *