Oyisultra.com, BAUBAU – Kepulauan Buton menorehkan tonggak sejarah baru dalam pembangunan ekonomi daerah. Untuk pertama kalinya, ekspor komoditas non-tambang, khususnya hasil perikanan, resmi dilepas langsung dari wilayah Baubau.
Ekspor perdana ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama PT Triko Bina Nusantara pada Rabu, 28 Januari 2026.
Pada tahap awal, PT Triko Bina Nusantara mengekspor komoditas ubur-ubur sebanyak empat kontainer dengan nilai mencapai Rp1,6 miliar ke Tiongkok.
Pengiriman ini menjadi bagian dari ekspor berkelanjutan yang ke depan akan terus ditingkatkan, seiring tingginya permintaan komoditas ubur-ubur di pasar internasional.
Ekspor perdana dari Kota Baubau ini terintegrasi dengan kegiatan ekspor di Kota Kendari. Pada waktu yang bersamaan, dilakukan pengiriman sebanyak 47 kontainer melalui Pelabuhan Bungkutoko Kendari dengan total nilai ekspor mencapai kurang lebih Rp500 miliar.
Integrasi tersebut menunjukkan konsistensi dan kesinambungan strategi ekspor Sulawesi Tenggara dari hulu hingga hilir.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, selaku Ketua Tim Percepatan Ekspor Sulawesi Tenggara, menyampaikan bahwa keberhasilan ekspor perdana melalui Pelabuhan Baubau merupakan hasil dari proses panjang.
“Gagasan awalnya berangkat dari pemikiran bahwa salah satu indikator peningkatan Dana Transfer Daerah dari pemerintah pusat adalah tingginya nilai ekspor,” kata Hugua.
Karena itu, lanjut Hugua, Pemprov Sultra, mendorong agar praktik ekspor komoditas seperti produk kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, dan produk lainnya harus dilepas langsung dari Sulawesi Tenggara.
Ia menambahkan, selama ini banyak komoditas asal Sultra diekspor melalui daerah lain, sehingga pencatatan dan rilis ekspornya tidak tercatat sebagai milik Sultra. Kondisi ini dianalogikan seperti telur mata sapi.
“Ayam yang bertelur, tapi sapi yang punya nama,” ungkap Hugua.
Ke depan, pihaknya mengimbau para pelaku usaha agar melakukan pelepasan dan pencatatan ekspor langsung dari wilayah Sulawesi Tenggara agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara maksimal oleh daerah.
Menindaklanjuti gagasan tersebut, Pemprov Sultra menggelar serangkaian pertemuan di berbagai daerah, mulai dari Kendari, Kolaka, Wakatobi hingga Baubau.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Sultra dan melibatkan Kadin, Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia, Bea Cukai, Pelindo, Balai Karantina, Balai Penjamin Mutu Perikanan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Konsolidasi antara pemerintah, pengusaha, dan stakeholder itu berdampak signifikan terhadap peningkatan kinerja ekspor Sulawesi Tenggara. Hingga akhir tahun 2025, upaya bersama tersebut membuahkan hasil dan mendapatkan apresiasi nasional.
Bea Cukai Kendari meraih penghargaan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai “Agen Fasilitas Kepabeanan Terbaik Kategori Ekspor Perdana dengan Nilai Devisa Tertinggi se-Indonesia Tahun 2025.”
Kepala Seksi Pabean dan Cukai Bea Cukai Kendari, Robert, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sultra, khususnya kepada Wakil Gubernur Sultra selaku Ketua Tim Percepatan Ekspor Sulawesi Tenggara, atas peran aktifnya dalam mendorong percepatan ekspor.
Ia mengungkapkan rasa syukur karena untuk pertama kalinya Bea Cukai Kendari meraih penghargaan ekspor secara nasional, dengan capaian nilai devisa ekspor perdana tertinggi se-Indonesia.
Sementara itu, PT Triko Bina Nusantara juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur ASR–Hugua, yang telah memberikan dukungan penuh hingga ekspor dapat direalisasikan langsung dari Sultra.
Pelepasan ekspor perdana ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi pelaku usaha lainnya untuk mengembangkan ekspor komoditas non-tambang dari Sulawesi Tenggara. Dengan kolaborasi yang kuat dan keberpihakan pada potensi lokal, Sultra diyakini mampu menjadi pemain penting dalam rantai ekspor nasional.









