Oyisultra.com, KENDARI – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra), Brigjen Pol Adri Irniadi SIK MH, menyampaikan pesan tegas sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif mendukung program pemberantasan dan pencegahan penyalahgunaan narkotika di Sulawesi Tenggara.
Dalam kegiatan Coffee Morning bertajuk “Kopdar Banggona Media” di Kendari, Jumat (10/10/2025), Brigjen Adri menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi seluruh masyarakat.
“Silakan kritik kami, tapi tolong bantu juga program kami. Karena memerangi narkoba bukan hanya tugas BNN, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegas Brigjen Adri di hadapan insan pers.
Ia menjelaskan, peredaran narkotika saat ini semakin kompleks dengan berbagai modus operandi baru yang sulit dideteksi. Jalur masuk barang haram tersebut, kata Adri, sudah terpetakan mencakup udara, laut, dan darat, namun jaringan pengedar terus berinovasi dalam penyelundupan.
“Kami sudah petakan pintu masuknya, dan modus operandi kian beragam berdasarkan data kasus. Yang paling canggih sekarang, seperti courier terbang. Di Jakarta, ada yang sampai menelan barang dan hanya bisa dideteksi lewat USG seperti ibu hamil, bukan dengan x-ray pesawat,” ungkapnya.
Selain itu, Brigjen Adri juga menyoroti modus penyelundupan baru di kawasan timur Indonesia yang memanfaatkan bandara serta teknik “sabun krim”, yakni melapisi pakaian atau jaket dengan narkotika agar lolos dari pemeriksaan kasat mata.
Meski tantangan semakin berat, BNNP Sultra masih menghadapi keterbatasan anggaran yang berdampak pada pelaksanaan program dan pengawasan di lapangan.
“Kami sekarang ada izin C, anggaran berkurang. Tadinya target 20 kegiatan, sekarang bisa selesaikan 16 pun sudah bagus. Ini karena adanya pemotongan anggaran,” ujar Brigjen Adri.
Dari 17 kabupaten/kota di Sultra, BNNP baru memiliki jangkauan kerja efektif di lima wilayah, sehingga ia berharap adanya dukungan tambahan anggaran dari pemerintah melalui APBN Perubahan agar program pemberantasan dan pencegahan bisa menjangkau seluruh daerah.
Brigjen Adri juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam menangani pengguna narkoba. Ia menegaskan bahwa pengguna dianggap sebagai korban dan diarahkan untuk menjalani rehabilitasi gratis di fasilitas BNN.
“Kami tidak hanya ingin menangkap, tapi juga menyelamatkan. Karena di balik setiap pengguna, ada keluarga yang berharap mereka bisa kembali pulih dan produktif,” katanya.
Selain penindakan, BNNP Sultra kini fokus memperkuat edukasi dan pencegahan melalui program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) yang menyasar pelajar dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
“Sudah dibuat di pusat namanya IKAN. Tujuannya agar mereka tahu, ganja itu seperti apa, ekstasi itu bagaimana, dan yang penting ancaman hukumnya harus diketahui sejak dini,” jelasnya.
Brigjen Adri juga mengimbau masyarakat untuk aktif melapor jika mengetahui adanya aktivitas mencurigakan terkait narkoba di lingkungan sekitar, baik melalui layanan aduan BNNP maupun saluran resmi lainnya.
“Mari kita jadikan Sulawesi Tenggara sebagai daerah yang berani mengatakan tidak pada narkoba. Kritik kami boleh, tapi bantu kami dengan aksi nyata,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Brigjen Adri mengingatkan agar masyarakat tidak terlena dengan situasi yang tampak tenang di permukaan.
“Jangan dibilang aman. Bisa saja barang sudah masuk dan kita tidak tahu. Kalau sudah ada satu yang lolos di awal, itu pasti akan berlanjut. Maka dari itu, sinergi antara BNN, aparat keamanan, dan masyarakat sangat penting,” tutupnya.









