Oyisultra.com, KONAWE KEPULAUAN – Tari Molihi adalah tarian tradisional dari suku Wawonii Kabupaten Kepulauan Konawe (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang erat kaitannya dengan masyarakat petani. Tarian ini sering ditampilkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, terutama yang berkaitan dengan hasil pertanian atau sebagai tarian yang menggambarkan kegiatan sehari-hari masyarakat.
Pada zaman dahulu masyarakat Wawonii khususnya di Desa Lebo sangat menggantungkan hidupnya pada daratan terlebih ketika mengenal sistem pengetahuan pertanian.
Sehingga dengan berjalannya waktu, muncul tarian yang diciptakan sebagai bentuk semangat dan rasa syukur masyarakat dalam membuka lahan pertanian. Tari tersebut dikenal dengan tari Molihi.
Tari Molihi menjadi bagian dari perayaan setelah panen atau poteo’a wawono ta’u. Namun, seiring waktu, lahan padi ladang mulai beralih fungsi menjadi lahan tanaman jangka panjang seperti cengkeh, pala, jambu mete, cokelat, dan kelapa, yang dianggap lebih bernilai ekonomis. Akibatnya, pertunjukan Tari Molihi berangsur-angsur berkurang dan bahkan tidak lagi dilakukan setiap pasca panen
Tari Molihi mengandung makna yang baik untuk diketahui dan dipahami oleh manusia. Tarian tersebut memiliki nilai yang banyak mengajarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang pekerja keras dan tidak mudah menyerah.

Hal ini terlihat dalam gerakannya yang memberikan gambaran betapa semangatnya kehidupan masyarakat zaman dahulu yang ulet dalam bekerja.
Gerakan penuh semangat dalam membersihkan lahan, menugal, menyabit rerumputan yang tersisa bermakna bahwa untuk mencapai hasil yang baik sangat dibutuhkan usaha dan kerja keras. Tidak ada hasil yang muncul begitu jika tidak didasari oleh usaha dan kerja keras.
Pada 1987, salah satu tokoh budaya Wawonii, Haji Saharuddin Sanggiri atau dikenal sebagai Bapak Upe telah mengangkat kembali gerakan tari Molihi dan memperkenalkannya kepada masyarakat di Desa Lebo.
Namun demikian, kemunculan kembali tarian tersebut, tidak lagi di pertunjukan sebagai tarian pasca panen padi ladang tetapi sebagai tarian pesta rakyat, misalnya perlombaan acara 17 Agustus, lomba tari tradisional antar sekolah dan kegiatan seni lainnya. Pertunjukan tari molihi yang sudah beralih fungsi masih tetap ada hingga saat ini.

Tari Molihi dahulu ditarikan saat pesta rakyat setelah panen sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah. Tarian ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar warga Wawonii
Tari Molihi merupakan salah satu dari sekian banyak tarian daerah Wawonii yang memiliki nilai budaya yang tinggi. Sayangnya, seperti budaya lokal lainnya, Tari Molihi menghadapi tantangan berupa kurangnya pemahaman dan minat dari generasi muda.
Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengembangan tari ini menjadi sangat penting agar tidak punah dan tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Wawonii









