Oyisultra.com, WAKATOBI – Tari Lariangi adalah tarian tradisional dari Kepulauan Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nasional pada tahun 2013.
Tarian ini awalnya merupakan tarian persembahan untuk raja pada masa Kesultanan Buton, yang ditarikan oleh penari wanita dengan gerakan lemah gemulai sambil menyanyikan syair menggunakan bahasa Kaledupa kuno.
Tarian ini memiliki makna simbolis yang dalam dan kaya, serta menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur masyarakat, seperti keberanian, kesabaran, dan kebersamaan.
Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14 atau abad ke-17 dan mulanya adalah tarian persembahan untuk menghibur raja yang letih pada masa Kesultanan Buton.
Lariangi umumnya akan ditarikan oleh 6 hingga 12 penari wanita, yang juga bernyanyi. Gerakannya lemah gemulai, anggun, dan penuh simbolisme, sering kali diiringi dengan iringan tetabuhan yang dinamis.

Penari menyanyikan syair berbahasa Kaledupa kuno yang berisi nasehat, sejarah, pujian, atau bahkan ramalan. Penari menggunakan busana adat yang indah, dengan riasan wajah dan rambut yang rumit dan memiliki makna simbolis tersendiri, misalnya melambangkan pagar beton keraton atau gerakan pertahanan dan penyerangan.
Selain sebagai hiburan, tarian ini berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai luhur, seperti pentingnya kebersamaan, kerja sama, dan hormat kepada tamu.
Menurut Lakina/Miantuu Sulujaju Umbosa (Panglima Perang Wilayah Timur) Barata Kahedupa Kabupaten Wakatobi La Ode Abdul Fatah, Lariangi bermula dari syair-syair yang dulunya dinyanyikan di dalam istana raja. Kerajaan Kahedupa sendiri dikenal sebagai kerajaan maritim dan jalur perdagangan rempah-rempah yang strategis
“Para penari Tari Lariangi mengenakan pakaian kebesaran permaisuri Raja Kahedupa, Ratu Wa Samo. Tarian ini umumnya dibawakan oleh 12 penari, yang melambangkan 12 bangsa di dunia,” kata La Ode Abdul Fatah kepada media ini, Kamis (20/11/2025).
Puncak dari Tari Lariangi terletak pada gerakan yang disebut “Ngifi” di bagian akhir tarian. Gerakan ini melibatkan dua penari lelaki yang menari mengelilingi dua penari perempuan.

Filosofi di balik gerakan Ngifi sangat dalam, mengandung pesan bahwa kaum lelaki, dalam kondisi apapun, harus senantiasa melindungi kaum perempuan.
“Kami meyakini tarian Lariangi masih asli, karena lagu-lagu yang dinyanyikan para pemain tarian tersebut sudah tidak dipahami lagi anak-anak generasi sekarang,” ujar La Ode Abdul Fatah.
Tari lariangi merupakan satu dari beberapa tarian yang diusulkan dalam MoU atau nota kesepahaman yang dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk mematenkan seni budaya yang ada di Unesco.
Tarian ini merupakan bagian dari keragaman budaya dan tradisi masyarakat yang ada di Wakatobi selain, di antaranya tari eja-eja dan kuiramba dari Tomia, tari badanda dari Binongko, dan tari kenta-kenta dari Wangi-Wangi.
Seni budaya tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang perlu dilestarikan sebagai salah satu kekayaan daerah.









