Oyisultra.com, KENDARI – Pendekatan Proaktif Pelayanan Kesehatan dalam Mengatasi Permasalahan Fisik dan Mental Lansia. Lansia merupakan individu atau kelompok umur yang telah memasuki tahapan akhir di fase kehidupannya. Seiring bertambahnya usia, lansia cenderung mengalami berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental.
Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan mobilitas umum dialami oleh lansia, sedangkan masalah mental seperti depresi, kecemasan, dan demensia menjadi perhatian utama yang sering kali kurang terdeteksi. Untuk mengatasi tantangan ini, pelayanan kesehatan bagi lansia memerlukan pendekatan yang proaktif, komprehensif, dan berkelanjutan.
Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Tenggara yang mengalami peningkatan jumlah lanjut usia (lansia) seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup penduduk. Peningkatan jumlah lansia ini membawa berbagai tantangan, terutama terkait pemenuhan kebutuhan kesehatan, sosial, dan kesejahteraan mereka.
Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi lansia di wilayah Konawe Selatan dan mengeksplorasi upaya serta solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Berdasarkan data sasaran lansia yang ada di wilayah kabupaten konawe selatan sejak januari hingga september tahun 2024 yaitu sebanyak 30.672 lansia dan yang mendapat pelayanan sesuai standar hanya sebanyak 19.326 atau dengan persentase capaian 68,9 % hal berarti masih ada 31,1 % lansia yang belum mendapatkan pelayanan.
Berbagai regulasi atau peraturan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan pada lansia salah satunya adalah Permenkes No.6 tahun 2024 tentang standar pelayanan minimal kesehatan yang meliputi :
1. Pemeriksaan Kesehatan Rutin
Lansia perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mendeteksi dini penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kardiovaskular. Pemeriksaan ini diupayakan agar dapat dilakukan secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat, seperti Puskesmas dan posyandu lansia.
2. Manajemen Penyakit Kronis dan Tidak Menular
Mengingat banyak lansia memiliki penyakit kronis, SPM menetapkan manajemen kesehatan khusus untuk lansia dengan penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit paru-paru. Ini mencakup pengaturan obat-obatan, pemantauan kondisi, serta edukasi tentang pola hidup sehat.
3. Layanan Rehabilitatif
Bagi lansia yang mengalami penurunan mobilitas atau kecacatan, layanan rehabilitatif disediakan untuk membantu mereka mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Rehabilitasi fisik, terapi okupasi, dan dukungan psikologis merupakan bagian dari pelayanan ini untuk meningkatkan kemandirian lansia.
4. Layanan Promotif dan Preventif
Kegiatan promosi kesehatan, seperti edukasi tentang pola makan sehat, pentingnya olahraga, dan pencegahan jatuh, juga masuk dalam SPM untuk lansia. Kampanye ini diadakan untuk membantu lansia dan keluarga mereka memahami langkah-langkah yang dapat diambil untuk menjaga kesehatan.
5. Pelayanan Kesehatan Mental
Lansia juga membutuhkan dukungan kesehatan mental untuk mencegah depresi, kecemasan, dan rasa kesepian. Pelayanan kesehatan mental, yang termasuk dalam SPM, bertujuan memberikan dukungan psikososial dan konseling yang dibutuhkan oleh lansia, terutama yang tidak memiliki dukungan keluarga yang memadai.
6. Pelayanan Berbasis Komunitas melalui Posyandu Lansia
SPM juga mengatur penyelenggaraan posyandu lansia sebagai bentuk pelayanan berbasis komunitas yang mendekatkan layanan kesehatan ke tempat tinggal lansia. Posyandu ini menyediakan pemeriksaan kesehatan dasar, pemberian suplemen, serta aktivitas sosial untuk lansia.
Pendekatan proaktif menitikberatkan pada tindakan pencegahan, deteksi dini, serta upaya meningkatkan kualitas hidup lansia secara menyeluruh. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya fokus pada pengobatan tetapi juga pada langkah-langkah untuk mencegah perburukan kondisi fisik dan mental yang bisa dialami lansia.
Pentingnya Pendekatan Proaktif
Pendekatan proaktif dalam pelayanan kesehatan bagi lansia sangat penting untuk:
1. Mencegah Penurunan Kesehatan yang Drastis: Lansia cenderung memiliki sistem imun yang menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Upaya pencegahan dapat menekan angka kejadian pe nyakit dan komplikasi.
2. Mengurangi Beban Ekonomi: Deteksi dini dan perawatan yang cepat dapat menekan biaya pengobatan yang tinggi pada tahap lanjut penyakit.
3. Meningkatkan Kualitas Hidup: Pendekatan ini memungkinkan lansia tetap aktif, mandiri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik, yang pada gilirannya juga meningkatkan kesehatan mental mereka.
4. Mengurangi Ketergantungan pada Layanan Darurat: Dengan pengelolaan kesehatan yang terencana, kebutuhan akan layanan darurat dan rawat inap dapat berkurang.
Pendekatan Proaktif untuk Masalah Fisik Lansia
Masalah fisik seperti penyakit jantung, gangguan sendi, osteoporosis, dan diabetes umum terjadi pada lansia. Pendekatan proaktif dalam menangani masalah ini dapat meliputi:
• Skrining Kesehatan Rutin: Melibatkan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi penyakit atau risiko penyakit sejak dini.
• Program Latihan Fisik Terarah: Latihan fisik yang dirancang khusus untuk lansia, seperti latihan kekuatan, aerobik ringan, dan latihan keseimbangan, dapat meningkatkan mobilitas serta mencegah cedera akibat jatuh.
• Pengelolaan Nutrisi: Makanan seimbang dengan asupan kalsium, vitamin D, dan protein yang memadai penting untuk menjaga kesehatan tulang dan otot.
• Pengelolaan Penyakit Kronis: Penyakit kronis perlu dikelola dengan baik melalui pengobatan, pengawasan tekanan darah, kadar gula, dan program konsultasi rutin.
Pendekatan Proaktif untuk Masalah Mental Lansia
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, namun sering kali terabaikan. Beberapa langkah proaktif yang bisa diterapkan meliputi:
• Deteksi Dini Gangguan Mental: Deteksi dini melalui asesmen rutin dapat membantu mengidentifikasi gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
• Dukungan Psikososial: Lansia yang merasa kesepian berisiko tinggi mengalami depresi. Aktivitas sosial terarah, seperti bergabung dalam komunitas, dapat membantu mereka menjaga kesejahteraan mental.
• Terapi dan Konseling: Lansia yang mengalami depresi atau kecemasan mungkin memerlukan dukungan psikologis dalam bentuk terapi atau konseling untuk membantu mereka menghadapi tekanan emosional.
• Stimulasi Kognitif: Kegiatan seperti permainan otak, membaca, dan belajar keterampilan baru membantu menjaga fungsi kognitif dan menurunkan risiko demensia.
Tantangan dalam Penerapan Pendekatan Proaktif
Meskipun pendekatan proaktif menawarkan banyak keuntungan, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya:
• Keterbatasan Sumber Daya: Banyak lansia yang tinggal di daerah yang kurang memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang memadai.
• Keterbatasan Kesadaran dan Pengetahuan: Beberapa lansia dan keluarganya kurang memahami pentingnya pemeriksaan rutin dan pencegahan.
• Biaya: Pelayanan kesehatan yang proaktif sering kali memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk deteksi dini dan perawatan jangka panjang.
Upaya untuk Mengatasi Tantangan
1. Pendidikan Kesehatan bagi Masyarakat
Melalui kampanye dan penyuluhan, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya pencegahan dan pemeriksaan rutin bagi lansia.
2. Kolaborasi Lintas Sektor
Pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menyediakan layanan kesehatan terjangkau yang berkualitas.
3. Penggunaan Teknologi
Telemedicine dan perangkat kesehatan digital memungkinkan lansia untuk memantau kesehatannya tanpa harus sering berkunjung ke fasilitas kesehatan.
Kesimpulan
Permasalahan yang dihadapi lansia di Kabupaten Konawe Selatan melibatkan berbagai aspek, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga sosial. Mengatasi permasalahan ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan keluarga. Dengan adanya perbaikan layanan kesehatan, dukungan ekonomi, layanan sosial, serta peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan kualitas hidup lansia di Konawe Selatan dapat meningkat, sehingga mereka dapat menikmati masa tua dengan lebih sejahtera.
Rekomendasi
1. Mengusulkan penganggaran khusus dalam APBD untuk program kesejahteraan lansia.
2. Mendorong keterlibatan sektor swasta dalam penyediaan layanan bagi lansia.
3. Membangun kerja sama dengan LSM atau organisasi internasional yang berfokus pada kesejahteraan lansia.
Penulis : Nuvi Yanti Roka, Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Mandala Waluya









